Di usia 80 tahun, Kakek Aga menjalani hidup yang seharusnya sudah dipenuhi ketenangan
Namun kenyataannya, hari-harinya justru diisi dengan perjuangan berat yang nyaris tak manusiawi bagi tubuh setua dirinya. Rambutnya telah memutih seluruhnya, langkahnya tertatih, dan napasnya sering tersengal. Meski begitu, Kakek Aga tetap berusaha bertahan hidup dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Kakek Aga hidup bersama istrinya, Ai Kuraesin (60 tahun). Mereka adalah pasangan lansia yang menjalani hidup dalam kesunyian—tanpa anak, tanpa sanak saudara, dan tanpa kerabat yang bisa menjadi tempat bersandar. Di usia yang tak lagi muda, mereka hanya memiliki satu sama lain, saling menguatkan di tengah keterbatasan yang semakin hari semakin berat.
Penderitaan Kakek Aga bermula dari sebuah peristiwa tragis yang mengubah hidupnya selamanya. Beberapa tahun lalu, Kakek Aga menjadi korban tabrak lari. Dalam kondisi tak berdaya di jalan, ia ditabrak lalu ditinggalkan begitu saja tanpa pertolongan. Akibat kejadian itu, kaki kanan Kakek Aga hancur dan patah di empat bagian. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi bisa berjalan normal. Setiap langkah terasa menyakitkan, tubuhnya tak lagi seimbang, dan rasa nyeri kerap menghantui siang dan malam.
Belum selesai dengan luka di kakinya, Kakek Aga juga pernah terserang stroke di tangan kanannya. Serangan itu membuat tangan kanannya kehilangan kekuatan. Ia tak lagi mampu mengangkat barang berat, bahkan sekadar menggenggam terlalu lama pun terasa melelahkan. Tubuh yang dulu menjadi sandaran hidup kini berubah menjadi batas yang menyiksa.